Pages

31.3.11

Mencari Ridho Manusia, Mungkinkah?



Dalam hidup ini seringkali yang dicari adalah ridho dari  manusia. Apakah ini mungkin? Imam syafi’I berkata tentang hal : رِضَا النَّاسِ غَايَةٌ لاَ تُدْرَكُ "Ridho manusia merupakan tujuan yang tidak bisa tercapai" maka hendaknya engkau mencari perkara yang baik bagimu, lazimilah perkara tersebut, dan tinggalkan yang selainnya dan janganlah engkau bersusah-susah untuk memperolehnya.
                Dari perkataan beliau di atas, ternyata ridho manusia adalah hal yang tak mungkin diraih. Mungkin saja sebagian manusia ridho atas kebaikan yang kita lakuakan, tetapi sebagian lagi mungkin mencela apa yang kita lakukan. Untuk menjelaskan hal ini saya membawakan sebuah cerita yang saya peroleh beberapa bulan lalu dari seorang guru yang insya Alloh bermanfaat bagi kita semua.
                Pada suatu hari, seorang anak pulang ke rumah dengan perasaan kesal dan jengkel, dan bersungut-sungut. Melihat anaknya yang demikian sang ayah bertanya, “ada apa denganmu wahai anakku?” Sang anak menjawab pertanyaan ayahnya dan menjelaskan bahwa ia hari ini diolok-olok oleh temannya atas apa yang diperbuatnya. Ia merasa yakin apa yang diperbuatnya adalah perbuatan yang baik dan benar, hal ini disetujui oleh ayahnya. Sang ayah sangat mengerti perasaan anaknya ini. Kemudian ia membawa anaknya ke kandang keledai yang mereka miliki, kemudian berjalan keluar membawa keledai yang mereka miliki.
                Dalama perjalanan, sang anak dan ayah tidak menaiki keledai yang mereka miliki. Orang-orang yang berada di sekitar mereka berkata, “punya keledai kenapa tidak ditunggangi, kan sia-sia punya keledai jika tidak dapat ditunggangi.” Kemudian sang ayah menyuruh anaknya untuk menunggangi keledai, sedangkan sang ayah tetap berjalan di samping keledai. Orang-orang yang bertemu mereka berkata, “ sungguh anak yang durhaka, ayahnya disuruh berjalan sedangkan ia menunggangi keledai.” Sang ayahpun tersenyum, lalu sang ayah menyuruh anaknya untuk turun dari keledai, agar sang ayah dapat menggantikan anaknya menunggangi keledai. Melihat hal ini, orang-orang yang bertemu mereka berkata, “ayah macam apa ini, anak disuruh berjalan sedangkan ia asyik-asyik menunggangi keledai.” Sang ayahpun kembali tersenyum, kemudian ia menyuruh anaknya untuk naik ke atas keledai, agar dapat menunggangi keledai bersama-sama. Melihat hal ini, orang-orang yang bertemu mereka berkata“ keledai cuma sekecil itu dinaiki oleh dua orang, kasihan keledainya.”  
              

31.12.10

Pahit & Manis

Mama sering memberikan kata** nasihat sebelum mengambil keputusan, walaupun terdengar sederhana namun maknanya sungguh luar biasa dalam. Kata** yang menggambarkan betapa luas pengalaman hidup yang telah beliau lewati. Inilah kata** yang selalu saya usahakan untuk diingat, walaupun kadang terlupa (maaf ya ma):

Sebelum engkau mengambil keputusan, pertimbangkan dahulu seberapa pahit yang dapat engkau telan dan seberapa manis yang dapat engkau rasakan. Jika pahit dari hasil keputusan dapat engkau telan, dan manisnya engkau rasa cukup atau lebih untuk menghilangkan pahitnya, maka ambillah keputusan itu. Jika tidak demikian, tinggalkanlah.....

21.7.10

Belajar Menganalisis

Yup, inilah salah satu tambahan ilmu ketika kembali lagi berkuliah, yaitu "belajar menganalisis". Kalau menurut saya menganalisis itu adalah memahami sesuatu yang tidak secara eksplisit dituliskan ataupun dikatakan, namun ada makna yang tersirat dalam tulisan maupun perkataan tersebut. Jadi, menganalisis adalah memahami sesuatu secara komplit. Buat saya, selama dalam kehidupan yang hampir berjalan kurang lebih 25 tahun ini, kebanyakan memahami sesuatu hanya dari apa yang disampaikan secara eksplisit, jarang ambil pusing dalam memahami apa yang tersirat, ato dengan kata lain malas menganalisis. Ternyata,  banyak hal yang dapat dianalisis, mulai dari cara berbicara seseorang , laporan keuanga, sampai dengan peraturan perundangan perpajakan.. ^_^
Yap, untuk analisis peraturan perundangan tersebut, baru saja saya hadapi dua minggu belakangan ini dan tepat satu hari yang lalu analisis tersebut disampaikan di depan kelas. Saya kira mengerjakan tugas ini tidak sampai membuat otak keseleo, yang terjadi malah sebaliknya. Maklum selama ini saya sangat irritated dengan yang namanya peraturan perundangan. Pada awalnya pengerjaannya memang gampang, peraturan tersebut tinggal di baca dari pasal pertama sampai dengan pasal terakhir, namun apa yang harus dilakukan setelah itu??? Di baca ulangkah??? Saya coba untuk mengulangi membacanya namun hasilnya malah jadi ketiduran. Akhirnya jalan terangpun tiba, saya menemukan tulisan dari kakak kelas yang menganalisis peraturan perundangan. Dari tulisan tersebut terlihat bahwa ia mengerjakannya dengan penuh teliti. Ia uraikan segala sesuatunya mulai dari yang kecil sampai yang besar, mulai dari kulit sampai dengan isi, dan dituliskan dengan sangat runut sekali. Alhamdulillah, atas kehendak-Nya, dengan mempelajari cara ia menganalisis tersebut tugas sayapun dapat diselesaikan.
Dari pelajaran analisis-menganalisis ini, mungkin Yang Di Atas ingin mengingatkan saya untuk selalu berfikir dalam mengambil keputusan untuk berbuat dan bertindak, jangan melakukan sesuatu berdasakan apa yang tampak saja. Jujur, selama ini saya melakukan sesuatu hanya berdasarkan apa yang saya lihat, walaupun penglihatan sebenarnya tidak memperlihatkan kebenaran, ia lebih sering berdusta dan penuh tipu daya. Dan apa yang terjadi kemudian adalah saya sering kali jatuh dalam apa yang disebut dengan "penyesalan". Oleh karena itu, mulai saat ini saya akan berusaha sedikit demi sedikit mulai untuk berfikir dalam mengambil keputusan, menimbang segala hal dari aspek kebaikan atau keburukannya, sehingga keputusan yang diambil adalah keputusan yang terbaik. :)